<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-18671501</id><updated>2011-10-03T03:08:33.754-07:00</updated><title type='text'>do something in life</title><subtitle type='html'>aku, seorang perempuan, yang hanya ingin hidup sebagai manusia, bebas berbicara, bebas menulis, punya pilihan-pilihan dan bebas memilihnya...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kalamentari.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18671501/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalamentari.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Christine Silalahi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05553379339437827283</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>4</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18671501.post-113352913037161550</id><published>2005-12-02T05:06:00.000-08:00</published><updated>2005-12-02T05:12:10.386-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Memandang Prostitusi dari Pengalaman Prostitut&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;-No one deserves to be violated in any way-&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, telah ada kurang lebih sepuluh Peraturan Daerah (Perda) di Indonesia yang mengatur tentang kemaksiatan. Mulai dari persoalan minuman keras, perjudian dan tak lupa juga mengatur soal prostitusi. Secara nasional, pelarangan adanya prostitusi juga diatur dalam Rancangan Revisi Kitab Undang-Undang Hukum Pidana serta dalam Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi. Sayangnya, yang diatur didalamnya adalah mengkriminalisasikan prostitut dan bukannya menindak kriminalisasi yang dialami dalam prostitusi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Prostitut dan kekerasan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nia (bukan nama sebenarnya) adalah perempuan asal Indramayu yang datang ke Jakarta dan bertahan hidup dengan berjualan teh botol di pinggir rel kereta Manggarai. Setiap sore jam empat, Nia telah mandi dan berdandan, siap untuk beraktivitas. Nia meninggalkan kos-nya di daerah Prumpung setiap sorenya pukul enam. Berharap bahwa malam itu dia dapat menjual banyak minuman, dengan mengandalkan senyuman dan rayuannya, agar komisi yang dia peroleh dari ‘mami’-nya pun besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sialnya, malam itu, belum lagi pukul sepuluh (masih pagi lah), ada razia yang dilakukan oleh trantib. Nia dan kawan-kawannya lari tunggang langgang, panik. Malang, Nia jatuh terselengkat kakinya sendiri karena kepayahan lari dengan sepatu hak tinggi. Dalam posisi terduduk di aspal, ada tangan kasar yang merenggutnya dari belakang, lalu menyeretnya dengan paksa menuju mobil petugas. Nia meronta, ketakutan. Petugas makin beringas, ramai-ramai mereka mengangkat Nia dan melemparkannya ke mobil bagaikan bukan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dara (bukan nama sebenarnya), juga asal Indramayu. Suatu malam saat sedang berdagang teh botol&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=18671501#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;, datang sekelompok trantib melakukan razia. Menyadari bahwa dia tak mungkin bisa lari dan lolos dari kejaran petugas, Dara memilih pasrah. Dia berjongkok ketakutan dan mengatakan bahwa dia tidak akan lari kemana-mana, “Eh petugasnya malahan nyuruh saya buka riusliting celana saya, katanya dia mau lihat! Ya saya nggak mau, enak aja!”, tutur Dara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanti (bukan nama sebenarnya), asal Cirebon. Mengaku kalau dia dan teman-temannya yang tertangkap razia pernah ditampar petugas dengan menggunakan sandal jepit. Hal itu terjadi karena ada beberapa teman yang melarikan diri, “Padahal saya dan anak-anak kan udah nyerah mbak, eh gara-gara yang lari itu, semuanya jadi kena!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman Nia, Dara dan Tanti, adalah sebagian kecil dari banyak cerita kekerasan yang mereka alami, yang dipaparkan teman-teman PYLA (Perempuan yang Dilacurkan) dampingan Bandungwangi, saat LBH APIK Jakarta melakukan outreach ke tempat mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para PYLA hampir selalu mengalami kekerasan saat petugas melakukan razia. Bukan hanya kekerasan fisik dan psikis, tapi juga kekerasan seksual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratih (bukan nama sebenarnya) dari Cianjur, bercerita bahwa suatu malam, saat razia, dia melihat salah seorang rekannya sampai pingsan karena dikejar petugas, dan saat mengangkat rekannya itu, si petugas dengan kurang ajarnya memegangnya di bagian payudaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ani (bukan nama sebenarnya) dari Cirebon mengatakan bahwa dulu dia pernah terkena razia, ber-enam dengan rekan lainnya. Petugas menanyakan apakah mereka ingin dilepaskan atau tidak. Jika ingin dilepaskan, maka para PYLA harus mau melayani nafsu seksual mereka. Ani dan empat orang rekan lainnya menolak, sedangkan yang dua lagi mengiyakan. Jadilah, Ani dan empat rekan yang menolak dibawa ke Cipayung&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=18671501#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; sementara yang dua lagi dibawa ke kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, kalau pegang-pegang sih udah pasti mbak!”, demikian Ani mempertegas pola-pola pelecehan seksual yang dialami saat ada razia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sekarang ini, kekerasan yang dialami oleh para PYLA makin bertambah, tidak hanya saat razia. Beberapa malam terakhir ini mereka selalu berada dalam keadaan tidak tenang, karena ada oknum petugas yang di malam hari menggedor-gedor atau menendang pintu kos mereka. Oknum ini mencari-cari kesalahan para PYLA dan meminta imbalan uang atau pelayanan seksual. “Pernah kamar saya digedor-gedor, padahal saya lagi tidur, hari itu saya nggak dagang, eh kata petugasnya, saya yang tadi lari waktu razia dan saya mau ditangkep!”, papar Ratih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringnya saat mencari-cari kesalahan itu, mereka mengancam akan menangkap jika tidak diberi uang atau dilayani secara seksual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi para petugas yang sering datang ke warung-warung minum para PYLA dan meminta minuman serta minta ditemani, tanpa membayar. Sekali lagi disini mereka mengancam akan menangkap para PYLA jika mereka tidak dilayani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekerasan yang dialami PYLA tidak hanya berasal dari oknum petugas, namun juga dilakukan oleh para tamu. Tak jarang ada tamu yang mengajak mereka pergi dari lokasi berjualan teh botol untuk berhubungan seksual namun berujung pada praktek penipuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pernah ada tamu mengajak saya ke Puncak. Nggak tahunya setelah berhubungan seks, saya ditinggal begitu saja, tanpa dibayar. Padahal saya nggak bawa uang banyak, akhirnya pulangnya susah”, demikian keluh kesah Fitri (bukan nama sebenarnya), salah seorang PYLA asal Cirebon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga cerita dari Lina (bukan nama sebenarnya) asal Serang. Lina bercerita bahwa dia tidak mau melakukan hubungan seks (penetrasi), biasanya dia hanya menemani tamu saja di warung. Satu saat dia diminta tamu untuk menemani pergi ke diskotik. Lina mengiyakan dan pergi bersama 3 orang teman lainnya. Namun ternyata, di diskotik, Lina dan teman-temannya di cekoki minuman hingga mabuk dan dibawa ke hotel untuk melakukan hubungan seks,&lt;br /&gt;“Untungnya masih ada teman saya yang tidak terlalu mabuk, masih sadar gitu mbak. Dia gedor-gedor pintu kamar saya dan marah-marah sambil bawa saya pulang”, kata Lina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain kekerasan dari tamu, hidup para PYLA juga dihantui kekerasan yang dilakukan oleh gendak&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=18671501#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; mereka. Tak jarang para PYLA mempunyai gendak yang suka memukuli mereka dan meminta duit dari para PYLA. Bahkan, para gendak ini yang kemudian memaksa PYLA untuk menjual diri agar mereka mendapatkan penghasilan. Namun kebanyakan PYLA tetap bertahan dengan gendak-gendaknya. Sebagai seorang perempuan yang hidup dalam masyarakat patriarkis, maka mereka juga memiliki harapan akan kehidupan keluarga yang bahagia dan adanya laki-laki yang mencintai dan melindungi mereka. Bayang-bayang itu menutup mata dan pikiran sebagian besar PYLA dan membuat mereka bertahan hidup bersama para gendak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Prostitut dan pemiskinan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam masyarakat kita, prostitusi dipandang sebagai persoalan moralitas. Padahal prostitusi sesungguhnya adalah persoalan struktural. Faktor yang paling penting, yang melatarbelakangi prostitusi adalah pemiskinan yang sifatnya struktural.&lt;br /&gt;Menurut Saptari (1997:392), paling tidak ada tiga faktor yang mendorong seseorang untuk menjadi prostitut. Pertama, karena keadaan ekonomi atau kondisi kemiskinan; kedua, karena pandangan tentang seksualitas yang cenderung menekankan arti penting keperawanan sehingga tidak memberi kesempatan bagi perempuan yang sudah tidak perawan kecuali masuk dalam peran yang diciptakan untuk mereka; ketiga, karena sistem paksaan dan kekerasan.&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=18671501#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Dalam bukunya, Louise Brown mengatakan bahwa dalam prostitusi terdapat hirarki yang berbentuk seperti piramida.&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=18671501#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian atas terdiri dari perempuan yang memilih melakukan pekerjaan sebagai prostitut karena ingin meningkatkan taraf hidup mereka. Dengan menjadi prostitut, mereka mendapatkan uang dengan mudah dalam jumlah yang cukup besar serta kemungkinan untuk menikmati fasilitas mewah seperti menginap di hotel berbintang, makan di restoran mahal dan terkenal, serta kemungkinan untuk bepergian ke luar negeri. Jumlah mereka tidak begitu banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian tengah dari piramida ini diisi oleh mereka yang memilih bekerja sebagai prostitute karena kesulitan ekonomi yang mereka alami dan sedikitnya pilihan yang mereka miliki untuk mengatasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian paling dasar dari piramida, dengan jumlah terbanyak, terdiri dari gadis-gadis remaja yang menjadi milik masyarakat. Sedikit sekali dari mereka yang memang memilih bekerja sebagai prostitut. Sebagian besar terpaksa bekerja sebagai prostitut karena kemiskinan yang sangat parah dan pilihan yang mereka punya sangat terbatas.&lt;br /&gt;Kemiskinan itu jugalah yang membuat banyak orang tua tega "mempekerjakan" anak-nya. Apalagi di beberapa daerah masih berkembang anggapan keliru seputar prostitusi. Hasil penelitian Kuntjoro(1995) menunjukkan, sebagian besar masyarakat dari daerah asal prostitut seperti di daerah Mojo Tengah, Indramayu, atau daerah-daerah lainnya di Jawa Timur menganggap anak perempuan cantik ibarat "sawah". Makin cantik si anak berarti makin besar "sawahnya". Bahkan, sang bapak atau suami tak malu-malu lagi mengantarkan anak atau isterinya kepada para germo (Saratri Wilonoyudho Kepala Puslitbang Sainstek Universitas Negeri Semarang,Prostitusi-KOMPAS).&lt;br /&gt;Di Indramayu bahkan memiliki budaya yang menganggap bekerja sebagai prostitut adalah baik. Bahkan, keluarga menyelenggarakan upacara selamatan agar anak perempuannya mendapat banyak pelanggan dan dapat mengirim uang untuk keluarganya (Ruhainin, 2002).&lt;br /&gt;Simak pengalaman Anita (bukan nama sebenarnya), asal Cirebon. Anita bercerita bahwa pertama kali dia datang ke Jakarta diantar oleh Ibunya. Semula Anita bekerja di sebuah pabrik di Cirebon, namun bayarannya yang tak seberapa membuat Ibunya mendesak Anita agar mau ke Jakarta. Menurut Ibunya, Anita akan membantu teman sekampung Ibunya yang sudah lama merantau di Jakarta dan bekerja sebagai pedagang. Anita mengiyakan dan berangkatlah mereka ke Jakarta. Namun sesampainya di Jakarta, Anita baru tahu bahwa dia diminta untuk berdagang teh botol dan bertugas merayu tamu agar membeli minuman sebanyak-banyaknya, “Ibu saya sempet nemenin saya selama 3 bulan, dia yang ngajarin saya dandan. Setelah saya pinter dan bisa ditinggal, baru Ibu pulang ke kampung.” Anita mengaku bahwa dengan menjadi prostitut maka perekonomian keluarga menjadi terbantu.&lt;br /&gt;Sita (bukan nama sebenarnya), asal Cianjur, bercerita bahwa awal dia ke Jakarta terdorong karena ingin memperbaiki hidup, “Saya nggak ngapa-ngapain juga di kampung. Sekolah enggak, kerja juga enggak. Jadi waktu diajak teman saya ke Jakarta, saya mau aja. Habis kan saya butuh hidup. Sampai Jakarta, saya mau kerja apa lagi selain dagang teh botol? Sekolah aja nggak.”&lt;br /&gt;Pengalaman Anita dan Sita hanyalah sebagian kecil saja dari sekian banyak PYLA lain yang juga mempunyai latar belakang tidak jauh berbeda. Pemiskinan struktural oleh Negara membuat mereka tidak mempunyai banyak pilihan cara untuk bertahan hidup. Apalagi sebagai seorang perempuan, yang tidak hanya dimiskinkan oleh Negara namun juga oleh budaya dan masyarakat patriarki yang telah melakukan disempowerment perempuan sehingga mereka tidak memiliki ketrampilan dan pendidikan, yang akhirnya tidak memberikan kesempatan dan kemampuan bagi perempuan serta telah meniadakan pilihan-pilihan mereka.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Prostitusi dan Budaya Patriarki&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; Nyatanya memang benar bahwa berbicara prostitusi tidak hanya sekedar berbicara tentang pemiskinan. Pemiskinan ini harus juga disadari merupakan hasil dari sebuah hubungan ketidaksetaraan. Prostitusi adalah sebuah usaha yang terbentuk dari ketimpangan hubungan antara kekuasaan laki-laki dan perempuan, antara si miskin dan si kaya, antara kaum minoritas dan kaum pemegang kekuasaan dalam masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun ada juga prostitut laki-laki, namun yang jumlahnya paling banyak, tetap adalah prostitut perempuan. Kemunculan prostitusi tidak lepas dari budaya patriarki yang memunculkan definisi sosial dalam masyarakat yang mengatakan bahwa perempuan adalah obyek seks. Bahkan pada masa raja-raja, hadiah paling berharga yang dapat diberikan kepada raja adalah perempuan. Ingat kisah tentang Ken Dedes, dimana diceritakan bahwa Tunggul Ametung ingin menjadikan Ken Dedes sebagai istrinya. Ken Dedes menolak dan banyak masyarakat yang merasa heran karena mereka berlomba-lomba untuk menjadikan diri mereka/anak perempuan mereka sebagai istri (bahkan selir) dari Tunggul Ametung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan pada masa perang, prostitusi merupakan bagian yang tidak terlupakan. Contohnya adalah keberadaan perempuan-perempuan Indonesia yang dijadikan prostitut (Jugun Ianfu) pada masa penjajahan oleh Jepang. &lt;br /&gt;Dengan status perempuan sebagai obyek seks, maka sebenarnya kemunculan prostitusi adalah disebakan adanya permintaan dari masyarakat terutama dari laki-laki yang membutuhkan layanan jasa seks.&lt;br /&gt;Foucault dalam History of Sexuality (1976) mengatakan bahwa perempuan berada dalam posisi obyek, baik obyek seksualitas maupun obyek untuk menimpakan kesalahan. Laki-laki cenderung menyalurkan hasrat seksualitasnya kepada siapa pun (dalam hal ini, perempuan) yang dikehendaki. Perempuan ditempatkan dalam posisi pasif. Sebagai seorang prostitut, perempuan dituntut untuk pasif dan melayani tamu laki-laki sesuai apa yang mereka inginkan. Sebagai seorang istri, perempuan dituntut pula untuk pasif, sehingga ketika ada hal yang menurut suami tidak berkenan, maka ia bisa menggunakan hal itu untuk alasan "jajan".&lt;br /&gt;Dalam struktur industri seks, di masyarakat yang patriarkis seperti di Indonesia ini, maka jelas bahwa perempuan berada pada posisi paling bawah. Se-independen apapun seorang prostitute, tetap saja peran-peran mereka ditentukan oleh kekuasaan pihak lain yang lebih tinggi seperti germo, gendak, makelar, aparat keamanan, dan tamu, yang sebagian besar adalah laki-laki.&lt;br /&gt;Sehingga, melihat dari konteks diatas, dapat dikatakan bahwa prostitusi adalah bentuk eksploitasi, kekerasan terhadap perempuan, bukan persoalan moralitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Prostitut dan Negara&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam memandang persoalan prostitusi, patut untuk dipertanyakan bagaimana tanggungjawab Negara. Karena Negara justru seakan-akan melegalkan dan mendukung praktek kekerasan tersebut, prostitusi itu sendiri sebagai bentuk ekspolitasi perempuan maupun kekerasan yang dialami oleh prostitut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini terlihat dari ketidakkonsistenan Negara dalam memandang prostitusi. Dari peraturan-peraturan yang ada, Negara terkesan mencla mencle. Lihat saja sikap aparat dalam melakukan razia. Praktek suap ternyata dapat dengan mudah dilakukan sehingga para prostitut dapat dengan mudah keluar asalkan punya uang. Bahkan, aparat juga meminta imbalan pelayanan seks pada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, ada juga praktek-praktek dimana aparat menjadi backing dari para pemilik usaha prostitusi. Mereka meminta uang bulanan dengan jaminan bahwa aparat akan menjaga keberlangsungan usaha mereka, meskipun pada prakteknya, razia juga tetap dilakukan.&lt;br /&gt;Dalam memandang prostitusi, Negara menggunakan landasan moralitas (bukannya eksploitasi terhadap perempuan) sehingga yang terjadi adalah kriminalisasi prostitut. Padahal dalam Konvensi tahun 1949 tentang Larangan Perdagangan Perempuan dan Eksploitasi Pelacuran oleh Pihak Lain (Convention for the Suppresion of the Traffic to Persons and the Prostitution of Others) serta Konvensi Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan (diratifikasi Pemerintah RI dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984) menyebutkan bahwa perdagangan perempuan serta prostitusi paksa termasuk bentuk kekerasan terhadap perempuan. Hal ini menunjukkan pengakuan bersama komunitas internasional bahwa dalam prostitusi, apa pun bentuk dan motivasi yang melandasi, seorang perempuan yang dilacurkan adalah korban.&lt;br /&gt;Sehingga, yang seharusnya digunakan sebagai landasan upaya pengentasan prostitusi adalah kenyataan bahwa prostitusi adalah bentuk kekerasan terhadap perempuan. Ironisnya, yang terjadi di Indonesia, hak sebagai individu dan warga negara para perempuan korban itu masih terabaikan.&lt;br /&gt;Hal yang paling tampak jelas adalah adanya ketimpangan perlakuan yang hanya menyudutkan para prostitut. Dalam upaya razia, yang ditangkap hanyalah prostitutnya, sementara para laki-laki hidung belang, germo dan juga pemilik usaha prostitusi tidak ikut ditangkap. Kalaupun ada laki-laki hidung belang yang ditangkap, paling-paling mereka hanya didata lalu kemudian dilepas. Mereka tidak diberikan ceramah moral, cek darah, atau "dididik" di panti rehabilitasi, tidak seperti perlakuan yang diterima oleh para prostitut. Padahal bisnis prostitusi juga menganut prinsip ekonomi, dimana adanya penawaran adalah akibat adanya permintaan.Tapi tetap saja, perempuanlah yang lantas dipersalahkan.&lt;br /&gt;Upaya pengkriminalisasian PYLA bukan hanya di lakukan oleh aparat di lapangan, namun kini semakin dipertegas oleh banyaknya peraturan-peraturan Negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Peraturan Daerah, ada beberapa yang saat ini telah disahkan, antara lain:&lt;br /&gt;1.    Perda Kabupaten Way Kanan Nomor 7 Tahun 2001 tentang Larangan Perbuatan Prostitusi dan Tuna Susila Dalam Daerah Kabupaten Way Kanan.&lt;br /&gt;2.    Perda Kabupaten Lampung Selatan Nomor 4 Tahun 2004 tentang Larangan Perbuatan Prostitusi, Tuna Susila dan Perjudian serta Pencegahan Perbuatan Maksiat dalam Wilayah Kabupaten Lampung Selatan.&lt;br /&gt;3.    Perda Kota Medan Nomor 6 Tahun 2003 tentang Larangan Gelandangan dan Pengemisan serta Praktek Susila di Kota Medan.&lt;br /&gt;4.    Perda Kabupaten Lahat Nomor 3 Tahun 2002 tentang Larangan perbuatan Pelacuran dan Tuna Susila dalam Kabupaten Lahat.&lt;br /&gt;5.    Perda Kota Bandar Lampung Nomor 15 Tahun 2002 tentang Larangan Perbuatan Prostitusi dan Tuna Susila dalam Wilayah Kota Bandar Lampung.&lt;br /&gt;6.    Perda Kabupaten Daerah Tingkat II Indramayu Nomor 7 tahun 1999 tentang Prostitusi.&lt;br /&gt;7.    Perda Kotamadya Daerah Tingkat II Kupang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Penertiban Tempat Pelacuran di Daerah Kota Kupang.&lt;br /&gt;8.    Perda Kabupaten Badung Nomor 6 tahun 2001 tentang Pemberantasan Pelacuran.&lt;br /&gt;9.    Perda Kota Palangkaraya Nomor 26 Tahun 2002 tentang Penertiban dan Rehabilitasi Tuna Susila dalam Daerah Kota Palangkaraya.&lt;br /&gt;10.Perda provinsi Gorontalo Nomor 10 Tahun 2003 tentang Pencegahan Maksiat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan Perda-Perda tersebutlah maka pemerintah daerah semakin gencar saja melakukan razia-razia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena landasan berpikir yang digunakan oleh para pembuat kebijakan itu adalah moralitas, maka hampir seluruh substansi peraturan tersebut diatas mengkriminalkan prostitut. Peraturan-peraturan tersebut tidak melihat keberadaan prostitut yang adalah korban eksploitasi dan juga menafikan latar belakang mereka. Dalam bab mengenai Ketentuan Pidana yang mengatur mengenai pidana bagi para PYLA di cantumkan mengenai hukuman penjara dan juga denda yang harus dibayar oleh PYLA. Dalam bab ini tidak sama sekali dituliskan untuk melihat latar belakang (keterpaksaan apa) yang membuat mereka menjadi PYLA. Lalu bagaimana dengan para PYLA yang sebenarnya dijebak untuk masuk ke dalam dunia prostitut atau juga mereka yang terpaksa karena adanya kebutuhan untuk bertahan hidup?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peraturan ini juga tidak melihat kenyataan adanya tindak kekerasan yang dialami prostitut dan tidak memberikan perlindungan kepada mereka (bahkan petugas sendiri juga menjadi pelaku tindak kekerasan tersebut). Tidak ada satu bab pun yang memberikan perlindungan atas kriminalitas yang dialami oleh prostitut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini membuat para prostitut menjadi takut untuk meminta perlindungan atas diri mereka. Padahal mereka memiliki hak untuk itu, sebagai Warga Negara republik ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga ketika ditanyakan mengapa mereka tidak mencoba melaporkan kejadian kekerasan yang mereka alami, maka jawabannya adalah mereka tidak berani. Simak saja jawaban-jawaban mereka,&lt;br /&gt;“Kita ini siapa lah mbak? Cuma cewek malam. Mana ada sih yang mau denger?”&lt;br /&gt;“Yang ada kita mbak yang dipersalahkan..”&lt;br /&gt;“Mbak tahu nggak kasus empat cewek malam yang diperkosa sama petugas? Petugasnya ditangkap dan cuma ditahan 7 hari, abis itu dibebasin. Waktu dia bebas, dia langsung ngamcem akan cari cewek yang ngelaporin dia itu, mau dihabisin katanya. Yah takut lah..”&lt;br /&gt;“Mereka (petugas) kan jelas akan lebih membela anggotanya mbak daripada kita..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberdayaan juga merupakan hal yang dilupakan oleh Negara. Jika Negara menyadari bahwa ada faktor kemiskinan dan disempowerment yang dilakukan terhadap perempuan, sepatutnyalah ada upaya pemberdayaan yang dilakukan sehingga para prostitut mempunyai pilihan-pilihan dalam mempertahankan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun ada panti-panti sosial yang katanya berfungsi untuk memberikan ketrampilan kepada para prostitut, faktanya peran pemberdayaan itu justru tidak terlihat. Akhirnya, para prostitut yang telah keluar dari panti, akan kembali lagi menjadi prostitut. Bagai lingkaran setan yang tak putus-putus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk wilayah Jakarta, terdapat tiga panti sosial, terletal di Cipayung, Kedoya dan Pasar Rebo. Cipayung pada dasarnya hanya tempat transit sementara, sambil menunggu untuk dipindahkan ke Kedoya atau Pasar Rebo. Para prostitut yang terkena razia, biasanya harus tinggal dipanti selama 3-7 bulan, tergantung apakah dia sudah pernah terkena razia atau belum.   Panti ini seharusnya menjadi tempat pemberdayaan bagi para prostitut, mereka di ajari bagaimana membuat kue, menjahit atau ketrampilan salon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun apakah program panti sebagai bentuk pemberdayaan juga memperhatikan apa yang menjadi keinginan para prostitut? Apakah pernah pemerintah membuat program dengan terlebih dulu mengajak prostitut berkonsultasi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada faktanya, sampai saat ini, panti sebagai upaya pemberdayaan tidaklah begitu berhasil. Banyak prostitut yang memilih untuk membayar uang suap, demi tidak masuk ke panti. Simak alasan mereka,&lt;br /&gt;“Males mbak, lebih banyak bengongnya, nggak ngapa-ngapain, nggak dapet uang.”&lt;br /&gt;“Abis tempatnya kayak penjara mbak. Pakai teralis-teralis gitu. Trus keluarga kalau mau berkunjung, harus bayar sogokan segala dan pake jam-jam, kayak di penjara aja.”&lt;br /&gt;“Makanannya juga amit-amit mbak. Kadang makanan basi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jikalaupun ada dari mereka yang kemudian menjalani hidup dipanti, sekeluarnya mereka dari sana, mereka kembali lagi beraktivitas sebagai prostitut. Banyak hal yang membuat mereka kembali seperti itu. Diantaranya adalah tidak adanya tindak lanjut dari program panti, misalnya menyalurkan mereka ke tempat-tempat dimana mereka bisa mempraktekkan ketrampilan mereka. Para prostitut juga tidak memiliki modal uang yang cukup untuk membuka usaha mereka sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup tulisan yang sengaja hanya ingin memaparkan pengalaman ini, penulis ingin mengajak semua pihak agar mengubah cara pandang dalam menyikapi prostitusi. Bahwa prostitusi bukan persoalan moralitas melainkan persoalan eksploitasi terhadap perempuan. Bahwa menyelesaikan persoalan prostitusi bukan dengan mengkriminalkan mereka. Bahwa mereka juga memiliki hak-hak yang sama untuk dilindungi sebagai warga negara. Bahwa menyelesaikan persoalan prostitusi bukan dengan bersikap sok tahu akan apa kebutuhan prostitut, tetapi juga sebaiknya menanyakan dan mendengarkan pengalaman mereka...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=18671501#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Para PYLA biasanya bekerja pada germo-germo yang berdagang minuman. Meskipun ada juga minuman lain seperti bir atau soft drink, mereka kerap menggunakan istilah berdagang teh botol. Harga sebotol minuman teh berkisar antara Rp 5.000 – Rp. 10.000. Jika laku, para PYLA (Perempuan yang Dilacurkan) memperoleh komisi dari germo. Dengan harga yang begitu mahal, pembeli memperoleh imbalan boleh meraba dan mencium para PYLA. Apabila si pembeli ingin mendapatkan kepuasan tambahan, atau menginginkan sesuatu yang lebih, semisal hubungan seks, maka ada aturan tambahan. Pembeli akan dikenakan tarif "parkir" berkisar antara Rp 100.000 – Rp. 150.000. Para PYLA akan dibawa pergi ke hotel atau hanya di gubuk dan bangunan liar yang ada.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=18671501#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Tempat sementara sebelum mereka dipindahkan ke panti di Kedoya atau di Pasar Rebo.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=18671501#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Gendak adalah sebutan untuk pacar.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=18671501#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Penelitian Anak Yang Dilacurkan: Studi Kasus di Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur, Kerjasama antara Yayasan Kusuma Buana, PKPM Unika Atmajaya, Universitas Airlangga dan IPEC-ILO, 1998, hal.4.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=18671501#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Brown, Louise; Sex Slaves, The Trafficking of Women in Asia, (Virago Press 2000), hal. 17 &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18671501-113352913037161550?l=kalamentari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalamentari.blogspot.com/feeds/113352913037161550/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18671501&amp;postID=113352913037161550' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18671501/posts/default/113352913037161550'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18671501/posts/default/113352913037161550'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalamentari.blogspot.com/2005/12/memandang-prostitusi-dari-pengalaman.html' title=''/><author><name>Christine Silalahi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05553379339437827283</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18671501.post-113352721777572175</id><published>2005-12-02T04:06:00.000-08:00</published><updated>2005-12-07T05:51:03.086-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:180%;color:#000000;"&gt;&lt;strong&gt;Yah, minimal anak lo bisa jadi sekretaris dehhh....&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Beberapa hari yang lalu, saya ada keperluan ke mantan kampus saya, Universitas Indonesia di Depok. Janjian dengan seorang teman di halte stasiun UI. Sore yang cukup ramai. Hingga hampir seluruh bangku semen halte penuh diduduki. Saya duduk '&lt;em&gt;nyempil&lt;/em&gt;' diantara beberapa tukang ojek yang sedang mangkal.&lt;br /&gt;Cukup lama saya menunggu, teman saya tidak datang-datang. Mati gaya, akhirnya secara tidak disengaja, saya menguping pembicaraan dua tukang ojek di sebelah kanan saya. Yang ternyata, hasil menguping ini membuat saya jadi sangat gelisah dan sadar masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Kira-kira begini obrolan mereka,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tukang ojek 1: Duh, &lt;em&gt;gue &lt;/em&gt;bingung nih. Hidup makin susah &lt;em&gt;aja.&lt;/em&gt; Jadi apa yah anak gue nanti? Bapaknya cuma tukang ojek &lt;em&gt;gini&lt;/em&gt;...?&lt;br /&gt;Tukang ojek 2: &lt;em&gt;Lah, lo&lt;/em&gt; jangan &lt;em&gt;gitu &lt;/em&gt;dong. Kalau soal itu &lt;em&gt;mah udah&lt;/em&gt; ditentuin &lt;em&gt;ama&lt;/em&gt; yang diatas. &lt;em&gt;Udah ada&lt;/em&gt; garis hidupnya. Siapa &lt;em&gt;tau&lt;/em&gt; anak &lt;em&gt;lo&lt;/em&gt; jadi menteri!&lt;br /&gt;Tukang ojek 1: Menteri? Menteri perempuan? Anak &lt;em&gt;gua&lt;/em&gt; &lt;em&gt;tuh&lt;/em&gt; perempuan &lt;em&gt;tauk!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Tukang ojek 2: Lah jangan salah! (pada bagian ini saya sempat tersenyum sendiri, wah bapak ini mungkin lebih punya perspektif perempuan &lt;em&gt;nih&lt;/em&gt;, tapi ternyata.... -pen) &lt;em&gt;Kan&lt;/em&gt; ada menteri urusan peranan wanita.&lt;br /&gt;(Lalu mereka berdua terdiam, hingga akhirnya tukang ojek 2 bicara lagi dengan nada pasrah berusaha menenangkan tukang ojek 1)&lt;br /&gt;Tukang ojek 2: Yah, minimal anak lo bisa jadi sekretaris &lt;em&gt;deh&lt;/em&gt;...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hwaaa...!! Saya betul-betul langsung gelisah. Ingin ikut bicara, tapi tidak jadi. Entah apa juga yang jadi pertimbangan hingga saya diam saja. Mungkin sungkan yah? Tapi yang jelas, sepanjang penghabisan hari, hingga sekarang, obrolan mereka jadi pikiran saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa pembakuan peran-peran jender masih sangat melekat di masyarakat kita. Bahwa anak perempuan tidak bisa jadi menteri. Bahwa meskipun bisa jadi menteri, maka hanyalah menteri urusan peranan wanita. Bahwa mentok-mentok perempuan dijadikan sekretaris. Sedihnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya saya berpikir bahwa dunia sudah semakin maju. Peran perempuan mulai diakui dan dibuktikan dengan sangat oleh perempuan, bahwa perempuan juga mampu melakukan banyak hal. Tapi ternyata PR-nya masih banyak. Ternyata, masih banyak yang perlu dibongkar. Ya, ternyata revolusi masih sangat jauh di depan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, hanya ada satu kata, buat mereka yang memperjuangkan perubahan, terutama dalam pemenuhan hak-hak perempuan: SEMANGAT!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:courier new;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18671501-113352721777572175?l=kalamentari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalamentari.blogspot.com/feeds/113352721777572175/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18671501&amp;postID=113352721777572175' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18671501/posts/default/113352721777572175'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18671501/posts/default/113352721777572175'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalamentari.blogspot.com/2005/12/yah-minimal-anak-lo-bisa-jadi.html' title=''/><author><name>Christine Silalahi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05553379339437827283</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18671501.post-113161541532606363</id><published>2005-11-10T01:34:00.000-08:00</published><updated>2005-11-10T01:36:55.330-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-family:georgia;font-size:180%;"&gt;Perempuan Pencari Keadilan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Satu jam sudah perempuan itu menunggu. Entah apa yang ditunggunya. Ruang tunggu Polsek Pasar Rebo yang kecil, sumpek dan berdebu tidak menjadi masalah buatnya. Sebuah meja tua kecil yang dekil terletak ringkih di pojokan, diatasnya sebuah asbak penuh puntung rokok. Di dekatnya seorang bapak polisi asyik membaca koran sambil mengepulkan asap rokok tanpa henti. Terkadang dibuatnya bulatan-bulatan asap besar sambil terbatuk-batuk. Perempuan itu menikmati keheningan tersebut, memperhatikan bulatan-bulatan asap. Tiba-tiba pak polisi bersuara, berbicara sendirian, mengomentari bacaannya, “Dasar perempuan! Kalau nggak mau diperkosa, jangan pakai baju seksi dong! Pantas saja diperkosa, wong mengundang kok!!”. Sang perempuan mengerenyitkan dahi, tapi tetap diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak polisi melipat koran lecek hampir tak berbentuk itu dan meletakkannya di meja. Halaman muka koran menghadap keatas. Headline-nya menarik perhatian perempuan itu. ISTRI MENOLAK DI SETUBUHI, SUAMI MARAH-MARAH, ISTRI DIPUKULI, BABAK BELUR. Disampingnya ada gambar sang istri dengan bibir berdarah dan mata biru lebam. Tanpa sadar tangan perempuan itu mengepal erat, seperti meremas sesuatu dan sedang gemas pada sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah jam berlalu. Si bapak polisi yang tadi, akhirnya melirik ke arah perempuan itu.&lt;br /&gt;“Mau lapor bu?”, tanyanya.&lt;br /&gt;“Tidak pak.”, si perempuan menjawab.&lt;br /&gt;“Lalu… mau ngapain?”, tanyanya lagi.&lt;br /&gt;“Mau mencari keadilan…”&lt;br /&gt;“Hah!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak polisi itu menghilang ke dalam. Kira-kira lima belas menit, Ia muncul lagi. Kali ini tidak sendirian. Ia datang bersama seorang polisi wanita.&lt;br /&gt;“Selamat siang bu.” Sapa polisi wanita itu, ramah dan tegas. Rambutnya dipotong pendek.&lt;br /&gt;“Siang.” Jawab perempuan itu sambil senyum.&lt;br /&gt;“Nama ibu siapa?” tanyanya.&lt;br /&gt;“Darmi.” Ia menjawab pendek.&lt;br /&gt;“Ada yang bisa saya bantu?” lanjut si polwan dengan ramah.&lt;br /&gt;“Kalau ibu bisa bantu, saya sangat berterimakasih.”&lt;br /&gt;“Ibu ada keperluan apa?” Tanya si polwan.&lt;br /&gt;“Saya mencari keadilan..” Si perempuan menjawab.&lt;br /&gt;“Ibu terkena kasus apa? Bisa ibu ceritakan..”&lt;br /&gt;“Saya tidak terkena kasus apa-apa…”&lt;br /&gt;Bapak polisi dan Ibu polwan terbengong…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu tiba-tiba melirik ke arah jam dinding coklat yang menempel di tembok lusuh kantor polisi itu. Bak Cinderella dia terkejut. Sudah pukul setengah lima sore! Aku harus segera pulang…&lt;br /&gt;“Permisi pak, bu, saya pamit pulang…” Setengah berlari Ia meninggalkan kantor polisi beserta bapak polisi dan ibu polwan yang masih juga bengong..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esoknya, perempuan itu kembali lagi. Sepi sekali, batinnya. Polisi jaga bahkan tak ada ditempatnya. Bagaimana kalau ada yang mau lapor? Tanyanya dalam hati. Ia menempati kursi tunggu lagi. Ruangan masih berantakan, hampir tak ada yang berubah, asbak dan puntung rokok masih saja bertebaran di meja. Hanya satu buah koran baru yang terhampar terbuka di meja. Lagi-lagi sebuah judul kembali menarik perhatiannya: SEORANG PEMBANTU RUMAH TANGGA DIPERKOSA MAJIKANNYA. Ia memejamkan mata sambil menghela nafas panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba, Ia dikagetkan oleh suara-suara. Telinganya menegang, mencari arah suara. Rupanya berasal dari ruangan pengaduan.Terdengar isak tangis seorang perempuan.&lt;br /&gt;“Sumpah pak, saya dipaksa..”, terdengar suara perempuan ditengah sedu sedannya..&lt;br /&gt;“Masak sih? Dia kan pacar kamu?” Suara pak polisi mendesak.&lt;br /&gt;“Betul. Tapi saya tidak mau berhubungan seks pak… Saya berani sumpah, saya menolak.”&lt;br /&gt;“Ah, itu kan awalnya saja kamu menolak, pasti sesudah itu enak, nikmat… betul tidak?”&lt;br /&gt;“Tidak pak. Demi Allah…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Heh! Ngapain Ibu kembali? Pake nguping pembicaraan orang lagi… mau saya tangkap?”, bapak polisi yang kemarin tiba-tiba masuk dan menegur perempuan itu.&lt;br /&gt;“Maaf pak. Tadi saya masuk tidak ada orang.” Ia tersipu malu karena kepergok.&lt;br /&gt;“Ibu ngapain kembali ke sini?” Si Polisi mengulang pertanyaannya.&lt;br /&gt;“Mencari keadilan pak..” jawab perempuan itu pendek.&lt;br /&gt;“Ibu gila yah?” sahut bapak polisi itu. “Ibu mendingan pulang aja deh daripada saya masukkan ke penjara!!” Bapak polisi itu mengusirnya dengan kasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu terkejut dan raut wajahnya menampakkan ketakutannya.&lt;br /&gt;“Bapak polisi kan?” Tanya perempuan itu pelan.&lt;br /&gt;“Betul. Saya Bripda Bambang Sukardi. Ibu kan bisa lihat dari seragam saya? Ibu nggak buta kan? Masak sudah gila eh buta juga!”, jawab si polisi sinis.&lt;br /&gt;“Ini kantor polisi kan?” Tanya perempuan itu lagi.&lt;br /&gt;“Iya bu! Ibu kan bisa baca di papan di depan, Kantor Polisi Sektor Pasar Rebo.” Jawabnya tidak sabar.&lt;br /&gt;“Katanya, Polisi itu aparat penegak hukum. Berarti penegak keadilan kan?” Ibu itu masih terus bertanya. Perlahan ia surut dan membalikkan badan. Sambil melenggang pergi meninggalkan kantor polisi itu, dia masih menggumam, “Lalu kenapa disini juga nggak ada keadilan?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu kembali kerumahnya. Setengah berlari karena sudah jam setengah lima. Sebentar lagi Surti, anak perempuan semata wayangnya, bangun dari tidur siangnya. Dia harus minum obat, kalau tidak dia akan mengamuk. Kalau Surti ngamuk, dia akan menjedotkan kepalanya sendiri ke tembok, menyakiti dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surti, gadis berusia 25 tahun, yang kini mengalami gangguan kejiwaan. Awalnya Surti adalah gadis bahagia, dengan prestasi cemerlang dan masa depan yang gemilang. Tapi itu semua berakhir. Empat tahun yang lalu, direktur di perusahaan tempat Surti bekerja, memperkosa Surti. Sang direktur dinyatakan tidak bersalah. Polisi bilang tidak ada cukup bukti untuk membawa kasus ini ke pengadilan. Kata mereka, perkosaan berarti memasukkan alat kelamin ke dalam vagina seorang perempuan. Sementara sang direktur, ‘hanya’ memasukkan kepala botol, dan kayu kedalam vagina Surti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ditemukan bukti sperma. Sang direktur aman dan esoknya Kepala polisi berangkat ke kantor dengan mengendarai mobil baru. Sementara Surti…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu menyuapi Surti, memandikannya, dan memberinya obat. Kembali ia menidurkan Surti sambil menyanyikan tembang pengantar tidur. Dalam hati Ia menghitung jumlah kantor kepolisian yang telah Ia datangi. Di tangan kirinya Ia menggenggam secarik kertas berisikan daftar kepolisian di Jakarta. Dicoretnya Polsek Pasar Rebo dengan tinta merah tanda bahwa disitu juga tak ada keadilan. Ia bertekad, besok aku akan ke kantor polisi yang lain, mencari keadilan. Keadilan untuk Surti dan juga perempuan-perempuan lain… keadilan itu harus aku temukan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18671501-113161541532606363?l=kalamentari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalamentari.blogspot.com/feeds/113161541532606363/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18671501&amp;postID=113161541532606363' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18671501/posts/default/113161541532606363'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18671501/posts/default/113161541532606363'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalamentari.blogspot.com/2005/11/perempuan-pencari-keadilan-satu-jam.html' title=''/><author><name>Christine Silalahi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05553379339437827283</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18671501.post-113161499496727980</id><published>2005-11-10T01:24:00.000-08:00</published><updated>2005-11-10T01:29:54.983-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-family:georgia;font-size:180%;"&gt;Perempuan dengan Banyak Nama&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Aku perempuan Batak. Namaku Dumasari Nauli Sirait, orang-orang memanggilku Duma. Umurku 12 tahun. Kata mama arti namaku adalah Dumasari yang cantik. Mama juga bilang, aku ini memang sangat cantik. Tapi ketika aku cerita ke teman-temanku, kata mereka mama bilang aku cantik karena ia mamaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku anak pertama dari tiga bersaudara. Adikku nomor dua namanya Deborah Timoria Sirait, kami biasa panggil dia Debi. Umurnya 11 tahun. Adikku yang nomor tiga namanya Patar Parlindungan Sirait. Kami memanggilnya Patar. Umurnya 6 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapakku seorang pewagai negeri kelas menengah. Namanya Parulian Sirait. Tinggi besar dan berkulit hitam, wajahnya tampan. Suaranya besar menggelegar. Aku paling takut kalau dia marah. Tak jarang aku lari bersembunyi di kolong tempat tidur kalau Bapak marah. Dulu, sebelum ada Patar, Bapak sering kali memaki Mama sebagai orang tak berguna karena tak bisa memberinya keturunan. Aku berpikir, lalu aku dan Debi keturunan siapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Mamaku Paulina Sirait. Tetangga memanggilnya Ibu Sirait. Waktu masih gadis, nama mama Paulina Siahaan. Tapi berubah saat menikah dengan Bapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Mama sedih, Mama menangis. Kalau menangis, Mama akan datang ke kamarku. Kemudian aku keluar dari kolong tempat tidur dan memeluk Mama, sampai tangisnya reda. Kadang Debi suka ikut-ikutan berpelukan dan menangis bahkan lebih keras dari tangis mama. Padahal dia tidak ngerti apa-apa, dan aku serta mama jadi sibuk membujuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Patar lahir, Bapak gembira bukan main. Begitu juga mama. Meski Patar adalah anak ketiga, aku dan Debi, diharuskan memanggilnya Abang. Aku tidak mengerti. Bukankah Abang adalah panggilan untuk kakak laki-laki?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak Patar lahir pula, Mama dan Bapakku berganti nama panggilan. Bukan lagi Bapak dan Ibu Sirait, tapi berganti jadi Ama ni Patar dan Ina ni Patar&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=18671501#_edn1" name="_ednref1"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;. Aku bingung dan sempat bertanya pada Mamaku tersayang,&lt;br /&gt;“Ma, anak Bapak dan Mama kan ada tiga. Aku, Debi dan Patar. Kenapa orang tidak menyebut Bapak dan Mama, Ama atau Ina ni Duma, Debi dan Patar?” Tanyaku saat Mama sedang menyisir rambutku.&lt;br /&gt;“Aduh, kepanjangan dong inang&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=18671501#_edn2" name="_ednref2"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;..” Jawab Mama sambil tersenyum.&lt;br /&gt;“Tapi, kenapa nama Patar yang dipakai? Patar kan anak paling kecil..” Aku bertanya lagi dengan nada cemburu.&lt;br /&gt;“Patar kan anak laki-laki sayang, memang sudah seharusnya begitu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedari kecil, Mama membiasakan anak-anaknya untuk membantunya beres-beres rumah. Mulai dari membantu cuci piring, cuci baju, mengepel, menyapu, dan sebagainya. Bahkan Mama membuat pembagian tugas yang ditempel di dinding ruang makan. Aku bertugas mencuci piring dan bantu memasak, sementara Debi harus menyapu dan mengepel. Kok, nggak ada nama Patar? Aku bertanya-tanya dan segera berlari menghampiri Mama yang sedang memasak di dapur,&lt;br /&gt;“Mama, kenapa Patar tidak ada dalam jadwal pembagian tugas?”&lt;br /&gt;“Duma, Patar itu kan anak laki-laki. Apa kata orang nanti kalau dia mengerjakan pekerjaan perempuan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu aku hanya menganguk sok ngerti. Bahkan akupun hanya menganguk saja saat tempat dudukku dan Debi dipisahkan dari Bapak, Mama dan Patar di dalam acara keluarga. Kata mereka, itu tempat keluarga Sirait. Lalu Aku dan Debi keluarganya siapa? Jawab mereka, tergantung marga apa suami kami nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap paginya, aku dan Debi berangkat sekolah bersama. Kami sama-sama sekolah di SDN 06 di dekat pasar. Aku kelas enam dan Debi kelas lima. Setiap hari kami berjalan kaki menuju sekolah. Ketika Patar menginjak usia sekolah, aku dan Debi merasa senang karena berarti kami akan berjalan bertiga. Semakin ramai semakin baik, pikirku. Tapi ternyata, sekolah Patar berbeda dengan kami. Bapak mendaftarkannya di sebuah sekolah swasta katolik yang terkenal. Patar juga tak perlu jalan kaki, ada bis antar-jemput sekolah buatnya.&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;15 tahun kemudian…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku perempuan Batak, menikah dengan orang Batak. Namaku Dumasari Nauli Sihombing. Namaku berubah setelah menikahi Ir. Gerald Sihombing, teman kuliahku di Fakultas Teknik Mesin ITB. Aku kini punya keluarga, keluarga Sihombing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesta pernikahan kami meriah. Aku di’beli’ Gerald dengan tuhor&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=18671501#_edn3" name="_ednref3"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;3&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt; lima puluh juta rupiah. Keluargaku bangga dan menceritakan hal itu kemana-mana. Banyak pihak yang tercengang, mendengar besarnya jumlah uang yang diberikan. Tapi buatku, itu bukan kebanggaan. Aku bukan lagi milikku. Aku telah dibeli keluarga Sihombing. Bahkan namakupun harus diganti.. Kini, aku adalah Ny. Gerald Sihombing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai Ny. Gerald Sihombing, aku dilarang bekerja di luar rumah oleh mertuaku yang perempuan,&lt;br /&gt;“Kau itu bukan sembarang perempuan, kau istri si Gerald. Jangan kau bikin malu keluarga Sihombing. Tugas kau hanya melayani si Gerald dan mengurus rumah. Apalagi nanti kalau sudah punya anak!” demikian mertuaku bicara dengan nada-nada ketus. Aku diam saja. Pantang melawan orang tua. Dan akupun berhenti bekerja, menghabiskan hari-hariku di rumah saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun pernikahan kami, aku belum juga mengandung. Terdengar bisik-bisik keluarga di belakangku. Kata mereka aku perempuan mandul. Dalam hati aku bertanya-tanya, memang apa yang salah dengan perempuan mandul? Aku berusaha untuk tidak peduli. Aku dan bang Gerald sudah pernah periksa ke dokter. Katanya kami berdua sehat-sehat saja. Tidak ada masalah. Aku dan abang hanya bisa berdoa memohon kemurahan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ketidakpedulianku pun sirna. Bisik-bisik tidak lagi sekedar bisik-bisik. Setiap orang mulai bergunjing terang-terangan. Bahkan mertuaku sering dengan sengaja menyindirku sebagai perempuan mandul tak berguna. Tak segan dia bahkan menyuruh abang Gerald untuk mencari perempuan lain yang akan memberinya keturunan. Dibicarakannya persoalan ini didepanku, seakan aku tidak lagi dianggapnya manusia yang punya perasaan. Aku sedih dan mulai sering menangis. Aku teringat penderitaan Mama dulu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesedihanku makin memuncak di saat bang Gerald pun mulai mempemasalahkan hal itu. Dia sering marah-marah tanpa penyebab yang jelas. Mulai pulang malam dan tidak memperdulikan aku. Apakah abang tak cinta lagi padaku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan Maha Besar, tiga bulan kemudian aku dinyatakan positif hamil. Seluruh keluarga bersorak. Aku diperlakukan bagai ratu. Tak boleh mengerjakan ini, tak boleh mengerjakan itu. Mertuaku yang judes itupun perhatian padaku. Setiap kali berkunjung, dia selalu membelikan aku bermacam-macam buah-buahan. Abang Gerald tak kalah baik, Ia selalu pulang tepat waktu dan kini lebih sering menghabiskan waktu bersamaku dan anak kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering ia menempelkan kupingnya ke perutku yang membuncit, ingin mendengarkan dan merasakan tendangannya, katanya. Abang juga sering seperti orang gila saja, berjam-jam mengobrol dengan perutku,&lt;br /&gt;“Nanti, kalau kamu sudah keluar dari perut Mama, Papa janji akan bawa kamu jalan-jalan. Kita akan main bola bareng di taman atau main mobil balap dengan remote control. Kamu akan jadi jagoan papa, anak laki-laki papa yang baik dan pintar yah…”&lt;br /&gt;Aku tercekat. Bagaimana kalau anak kami ini perempuan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya Bang Gerald yang membuat aku khawatir. Mertuakupun begitu. Mereka bersikap sepertinya anak kami ini pasti laki-laki. Mereka mempersiapkan pesta penyambutan kelahiran dan memilihkan nama Nicolas Gerald Sihombing. Lalu, bagaimana kalau anak kami nanti perempuan? Jerit hatiku putus asa…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harinya tiba. Sejak pagi, perutku mulas tak tertahankan. Fisikku sakit tapi batinku bahagia tak terkira. Anakku akan segera berkumpul bersamaku. Seluruh keluarga beramai-ramai mengantarku ke rumah sakit. Sampai dua belas jam aku menahan mulas, keringatku bermunculan dalam butir-butir besar, tapi bayiku belum juga mau keluar. Keluarga panik, meminta dokter menyuntikkan cairan pendorong. Aku menolak, aku bilang aku mau bicara dulu pada bayiku.&lt;br /&gt;“Nak, kenapa kamu tidak mau keluar? Ayo nak, Ibu ingin melihatmu. Kamu tidak usah takut. Didunia memang banyak orang jahat dan banyak hal-hal yang tidak baik, tapi Ibu disini nak. Ibu berjanji padamu, pada Tuhan dan pada Ibu sendiri, Ibu akan menjagamu. Melindungimu. Ibu janji…” suaraku pelan menahan sakit. Aku tak letihnya mengelus perut besarku, ingin anakku merasakan bahwa aku mencintainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaib. Anakku akhirnya mendesak keluar sendiri. Tanpa aku perlu berusaha keras, anakku lahir.&lt;br /&gt;“Selamat bu, anak ibu perempuan. Cantik sekali…” kata dokter sambil memperlihatkan bayi merah yang menangis dengan suara keras. Aku tersenyum. Puas.. Aku akan pegang janjiku nak. Aku akan melindungimu. Biarpun papamu dan opungmu&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=18671501#_edn4" name="_ednref4"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;4&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt; akan kecewa karena kau bukan Nicolas mereka, tapi aku tidak.. Aku mencintaimu. Kuberi dia nama Serenada Angelika. Tanpa Sihombing dibelakangnya.. Aku ingin dia punya nama sendiri.  &lt;br /&gt;Dan benar, semua orang kecewa…, kenapa yang lahir Serenada?&lt;br /&gt;aku kemudian ‘dipaksa’ untuk terus hamil dan hamil demi adanya Nicolas mereka. Berturut-turut aku tetap diberikan bidadari-bidadari oleh Tuhan. Sebisa mungkin aku merawat mereka, menyayangi mereka meskipun aku harus terus menerus hamil bagai kambing!&lt;br /&gt;Hingga akhirnya, pada kehamilanku yang ke tujuh, di tengah kelelahanku, aku melahirkan bayi laki-laki. Cinta yang sama yang aku berikan pada bidadari-bidadariku juga aku limpahkan padanya. Dia diberi nama Nicolas Gerald Sihombing. Dan namakupun berubah. Dari ketujuh nama anak-anakku, orang-orang memilih memanggilku Ina ni Nicolas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku perempuan Batak, tak pernah punya nama yang menjadi milikku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Jakarta, 31 Agustus 2004&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=18671501#_ednref1" name="_edn1"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt; Bapaknya si Patar dan Ibunya si Patar&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=18671501#_ednref2" name="_edn2"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt; Arti sebenarnya adalah Ibu/Mama, tapi sering dipakai juga untuk menyebut anak perempuannya tersayang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=18671501#_ednref3" name="_edn3"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;3&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt; Mahar atau mas kawin&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=18671501#_ednref4" name="_edn4"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;4&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt; Nenek/kakek&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18671501-113161499496727980?l=kalamentari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalamentari.blogspot.com/feeds/113161499496727980/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18671501&amp;postID=113161499496727980' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18671501/posts/default/113161499496727980'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18671501/posts/default/113161499496727980'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalamentari.blogspot.com/2005/11/perempuan-dengan-banyak-nama-aku_10.html' title=''/><author><name>Christine Silalahi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05553379339437827283</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
